Dec 20, 2019

22 November 2019

Kabar buruk diawal bulan rasanya datang terlalu cepat, padahal satu bulan sebelumnya sudah merasa paling loyal. Tak peduli kesehatan fisik maupun mental, sebab rencana plesir di awal bulan sudah dirancang sedemikian rupa, ya meskipun belum terlalu matang.
Kembalinya dari plesiran ke dataran tinggi di tanah jawa, akupun merasa ingin kembali kesana. Bukan, bukan karena merasa kurang liburan. Tetapi karena rasa kesal ketika baru sampai kemudian harus beradu argumen tentang siapa yg benar dan salah. Sepakat pun didapat kami pun sepakat untuk berjabat tangan meski liur dan dahak ingin menghampiri wajahnya yg merasa paling profesional ketimbang yg lain. Kembali ke depan layar hingga datang petang lalu pulang.
Keesokan hari kami kembali bertemu, ternyata kesepakatan kemarin diubah setelah berbagai pertimbangan, mungkin ia pikir itu yg terbaik. Kesempatan kembali saya dapatkan, namun ini yg terakhir. Entah senang atau sedih aku merasa bimbang di tengah jalan menuju layar, rasa kecewa sudah final sebab dianggap tidak profesional oleh mereka yg merasa paling profesional hanya karena tingkat jabatan yg beda.
Lantas kenapa ketika hal ini diberitakan kepada mereka yg mengaku teman, kecewa dan dendam ikut dirasakan mereka. Bukan maksud untuk menghasut atau memancing ribut, tapi itu kecewa yg kami rasakan. Karena terlalu loyal? Atau terlalu profesional? Silakan kalian mengkhayal.

4 Oktober 2019

Sebuah parade kemenangan menemani si gelandangan yg sedang menikmati botol vodka terakhir yg ia miliki.
Sekiranya dapat menenangkan pikiran, ia teguk minuman hangat tersebut di antara dua gedung yg sedang menyaksikan gemuruh tarian dan nyanyian parade.
Di tengah meriahnya parade dan tenangnya si gelandangan dengan vodka di tangan, terdengar dentuman yg cukup keras dari birunya langit siang itu yg membuatnya terlempar dari ketenangan batinnya.
Sepinya parade setelah dentuman yg cukup keras membuatnya penasaran apa yg terjadi, kemudian ia beranjak dari tempatnya tadi sambil menggenggam vodka terakhirnya.
Tegukan pertamanya setelah keluar dari lorong sempit membuat ia sedikit terkejut karena parade tersebut telah berubah menjadi kebisuan yg menyisakan bau hangus badan yg terbakar oleh dentuman keras yg merupakan bom dari pihak lawan yg kemarin dianggap kalah oleh sekutu.
Sambil menggenggam vodka, ia mengumpulkan mayat tersebut menjadi tumpukan dan sandaran yg hangat untuk menikmati tegukan terakhir vodka yg ia miliki tanpa harus terganggu oleh riuhnya kemenangan dan kekalahan perang yg hanya membuatnya menjadi gelandangan.

18 Mei 2019

Ada kalanya kita harus kembali ke titik permulaan
Kembali memulai perjuangan
Kembali merasakan nikmatnya tangisan demi kebahagiaan
Kembali melepas kebahagiaan agar tak ada yg bersedih
Kembali merangkul dan berpeluh demi manisnya senyuman
Kembali mengurai cerita2 masa lalu yg menopang semangat
Kembali untuk berjuang, dan berjuang untuk kembali

25 April 2019

Suka lupa
Suka lupa kalau suka
Suka lupa kalau tidak disukai
Suka lupa kalau ingat
Suka lupa kalau tidak diingat
Suka lupa kalau sayang
Suka lupa kalau tidak disayangi
Suka lupa kalau sadar
Suka lupa kalau tidak sadar telah dilupakan
Suka lupa kalau lama tidak bertemu
Suka lupa kalau masih mengharap untuk bertemu

19 April 2019

Kehidupan tetap berlanjut, sementara pandangan kita masih tertutup kabut tebal.
Sempat ingin menghampiri untuk bertemu denganmu disebrang namun kabut tetap menghalangi pandangan, sementara jurang menghimpit jalan satu-satunya untuk kembali saling memandang.
Tak tahu kapan mentari datang untuk mengenyahkan kabut yg menutup pandangan.
Aku yg bersebrangan denganmu masih tetap menunggu di tepian jalan yg berhimpit jurang sampai pandangan kembali terang.